KOMPAK:Isradi Zainal (kedua dari kiri) berfoto bersama usai seminar.

Balikpapan(SB)-PT Pertamina Refinery Unit (RU) V Kalimantan melaksanakan Seminar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dengan tema “The Implementation Of Occupational Safety and Health (OSH) Nowadays and In The Future (Industrial Era 4.0)” di Novotel Hotel Balikpapan, pada Kamis (14/03/2019).
Kegiatan ini merupakan penutup rangkaian acara bulan K3 Nasional 2019. Bulan K3 dimulai 11 Januari 2019 dengan berbagai kegiatan salah satunya Balikpapan Fire & Rescue Challenge (BFRC) 2019 yang ditutup 14 Maret 2019.
Acara tersebut dihadiri Gubernur Kaltim, Dr Isran Noor, Direktur ILO Chapter Indonesia & Timor Leste Michiko Miyamoto, Ketua APJK3/ Komisi DK3N Dr Isradi Zainal, VP HSSE Upstream Pertamina Ir Nepos MT Pakpahan, Marketing For APAC Geoffrey James Way, serta ratusan undangan dari pengawas, pelaku usaha, dan mahasiswa dari berbagai kampus.
Paparan menarik disampaikan Ketua APJK3/Komisi DK3N Dr Isradi Zainal, ia menuturkan pelaksanaan K3 bagaimana supaya tidak terjadi kecelakaan kerja, makanya salah satu yang diupayakan oleh pemerintah adalah dengan regulasi, tapi sayangnya regulasi itu hanya sementara, karena regulasi masih ada egosektoral.
“Makanya melalui seminar kita ketemu bahwa seharusnya tidak ada egosektoral lagi, karena sumber hukumnya cuma satu yakni UU No 1 Tahun 1970, dan ini terkait keselamatan kerja dan para pekerja dan juga perusahaan, dan intinya ketenagakerjaan kalau bicara tenaga kerja berarti intinya di undang undang No 1 1970 dalam hal ini di bawah Kementerian Ketenagakerjaan,” katanya.
Menurutnya, kalau K3 diperuntukan di perusahaan saja, budaya K3 tidak bisa dicapai dalam waktu yang singkat, kalau budaya K3 bisa tercapai di semua sektor kehidupan mulai dari tingkat TK hingga semuanya menerapkan K3 sebagai budaya.
“Kalau kita mau mencapai budaya K3 itu tidak perlu belajar di perusahaan saja tetapi dari dunia pendidikan. Kita ingin K3 jadi budaya, K3 harus dikenalkan dan dibiasakan dari kecil. Bisa diajarkan dari usia TK dan SD untuk menerapkan dasar dasar K3,” tandasnya.
Ia mengatakan, Balikpapan bisa menjadi percontohan terkait K3, bisa melibatkan semua elemen seperti ibu ibu rumah tangga terkait cara memadamkan api, termasuk bagaimana menangani kecelakaan kerja.
“Penerapan K3 di Kota Balikpapan adalah penerapan terbaik se indonesia karena tidak ada satupun kabupaten kota secara rutin seperti ini, tidak ada satu pun di Indonesia melaksanakan yang konsistem melakukan kedaruratan, yang ketiga tidak satupun di Indonesia yang punya saffety pack, kemudian tidak satupun di Indonesia yang sedang merancang punya sistem atau SOP terkait keselamatan masyarakat jika ada bencana dan lain sebagainya.
“Harapan kita adalah budaya K3 cepat tercapai tidak terjadi kecelakaan kerja dan yang paling utama bahwa K3 masuk ke semua sektor kehidupan,” harapnya.(sb-02)