Provinsi Kaltim

Kepadatan Kapal di Sungai Mahakam, Gubernur Kaltim Usulkan Lokasi Tambat yang Aman

59
×

Kepadatan Kapal di Sungai Mahakam, Gubernur Kaltim Usulkan Lokasi Tambat yang Aman

Share this article
Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud mengusulkan pembangunan lokasi tambat kapal yang layak di Sungai Mahakam untuk mengatasi kepadatan dan meningkatkan keselamatan pelayaran.

SAMARINDA, suarabalikpapan.com – Gubernur Kalimantan Timur, Dr. H. Rudy Mas’ud, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi lalu lintas pelayaran di Sungai Mahakam, khususnya di kawasan ibu kota provinsi, Samarinda. Setiap hari, puluhan hingga ratusan kapal terlihat tambat sembarangan di tengah alur sungai, yang berpotensi mengganggu arus pelayaran dan membahayakan keselamatan.
Pemandangan tersebut sangat mudah disaksikan dari atas Jembatan Mahkota 2 dan kawasan Sungai Kapih. Gubernur yang akrab disapa Harum ini menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak bisa terus dibiarkan tanpa penanganan serius.
“Kalau kita melintas di Jembatan Mahkota 2 atau kawasan Sungai Kapih, terlihat jelas kapal-kapal menghalangi jalur pelayaran. Jumlahnya bisa mencapai ratusan tiap hari,” ujar Gubernur Harum saat menerima kunjungan Kepala Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas I Samarinda, beberapa waktu lalu di Kantor Gubernur Kaltim.
Ia menekankan bahwa aspek keselamatan harus menjadi prioritas utama dibandingkan kepentingan ekonomi. Menurutnya, kapal-kapal tersebut membutuhkan area tambat yang layak agar tidak mengganggu lalu lintas air dan menghindari insiden seperti kapal lepas tambat atau menabrak infrastruktur.
“Keselamatan itu di atas segalanya. Kita perlu segera cari solusi, termasuk menyiapkan lokasi tambat kapal yang memadai, terutama untuk kapal bermuatan,” tegas Harum.
Gubernur juga menyatakan keprihatinannya terhadap praktik kapal yang masih menambatkan diri di pohon atau sembarang tempat di tepian sungai. Ia menilai hal itu berisiko tinggi, terutama jika kapal lepas kendali.
Sebagai solusi jangka panjang, Gubernur Harum mengusulkan perlunya penyesuaian dan penataan tata ruang wilayah (RTRW) yang mengatur secara detail lokasi berlabuh kapal-kapal di sepanjang Sungai Mahakam.
Tak hanya kawasan Jembatan Mahakam dan Mahkota 2, standar keselamatan ini juga diharapkan berlaku untuk seluruh jembatan yang melintasi Mahakam, seperti Jembatan Muara Muntai, Jembatan Kukar, dan Jembatan Mahulu.
“Semua jembatan harus memiliki standar keselamatan yang sama. Jangan sampai kita lengah. Ini hanya soal waktu sebelum terjadi insiden lebih besar,” tandasnya.
Sebagai catatan, Jembatan Mahakam yang dibangun lebih dari 40 tahun lalu telah mengalami sedikitnya 23 kali insiden tabrakan fender oleh tongkang dan ponton. Insiden terbaru tercatat terjadi pada 26 April 2025.(SB-02/ADV/DISKOMINFO)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *