KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

Desa Lebaho Ulaq Dorong Ekonomi Lokal Lewat Gula Merah dan Ekowisata Terpadu

48
×

Desa Lebaho Ulaq Dorong Ekonomi Lokal Lewat Gula Merah dan Ekowisata Terpadu

Share this article
Desa Lebaho Ulaq di Kukar kembangkan ekonomi lokal lewat pengelolaan gula merah oleh BUMDes dan rencana ekowisata berbasis alam.

TENGGARONG,suarabalikpapan.com – Terbatasnya luas wilayah tak menghalangi semangat Desa Lebaho Ulaq, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara, untuk mandiri secara ekonomi. Lewat strategi pengembangan berbasis potensi lokal, desa ini menyoroti dua pilar utama: gula merah sebagai komoditas unggulan dan ekowisata terpadu yang tengah dirintis.
Kepala Desa Lebaho Ulaq, Imansyah, menjelaskan bahwa meskipun wilayah desa telah menyempit menjadi sekitar 2.800 hektare akibat pergeseran batas pada 2017, pihaknya tetap optimistis. Potensi lokal yang dimiliki menjadi pemicu untuk bergerak lebih kreatif dan terarah.
“Luas wilayah kami memang terbatas. Tapi kami punya produk khas yang sangat potensial, yaitu gula merah. Ini jadi daya tarik, apalagi saat musim durian tiba, desa kami ramai dikunjungi,” ujar Imansyah, Jumat (27/6/2025).
Penguatan Rantai Pemasaran Gula Merah Lewat BUMDes
Selama ini, pemasaran gula merah masih dilakukan secara konvensional. Para perajin menjual produk langsung atau melalui pengepul. Sistem ini dinilai kurang menguntungkan secara kolektif bagi ekonomi desa.
Untuk itu, pemerintah desa menyusun langkah strategis. Salah satunya adalah membentuk sistem pemasaran terpadu melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
“Kami ingin BUMDes mengambil alih pengelolaan dan pemasaran gula merah. Dengan begitu, kualitas lebih terjaga, pemasaran lebih luas, dan pendapatan bisa kembali ke desa,” ungkap Imansyah.
Dengan pendekatan ini, diharapkan gula merah Lebaho Ulaq bisa menjangkau pasar luar daerah, bahkan berpotensi menjadi produk unggulan Kutai Kartanegara.
Selain gula merah, ekowisata menjadi fokus jangka panjang pemerintah desa. Meskipun saat ini sektor wisata masih terbatas, potensi alam dan budaya lokal dinilai sangat mendukung.
“Saya sedang mempertimbangkan pembangunan resort atau penginapan yang dikelola desa. Harapannya, wisatawan bisa tinggal lebih lama dan menikmati suasana desa,” kata Imansyah.
Momentum musiman seperti panen durian yang mendatangkan pengunjung dari luar, menjadi peluang untuk memperkuat sektor wisata yang berbasis kearifan lokal.
Untuk merealisasikan rencana besar ini, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci sukses. Pemerintah Desa Lebaho Ulaq berharap adanya dukungan dari berbagai program pemerintah, termasuk Koperasi Merah Putih.
“Kami ingin BUMDes bisa bersinergi dengan program pemerintah seperti Koperasi Merah Putih. Ini penting agar seluruh potensi desa dapat berkembang maksimal ke depan,” pungkas Imansyah.
Dengan kombinasi produk unggulan lokal dan pengembangan ekowisata yang berkelanjutan, Desa Lebaho Ulaq menegaskan tekadnya untuk menjadi desa mandiri secara ekonomi, meskipun dengan keterbatasan wilayah.(adv)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *