KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

Desa Perdana Dorong Kemandirian Ekonomi Lewat Kebun Usaha dan BUMDes Digital

301
×

Desa Perdana Dorong Kemandirian Ekonomi Lewat Kebun Usaha dan BUMDes Digital

Share this article
Kepala Desa Perdana Pitoyo

TENGGARONG,suarabalikpapan.com — Pemerintah Desa Perdana, Kecamatan Kembang Janggut, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), mulai menggeser pola pembangunan desa dari berbasis bantuan tunai menuju pemberdayaan ekonomi berkelanjutan. Sebanyak 43 keluarga prasejahtera kini diarahkan untuk terlibat dalam program produktif yang memberikan penghasilan tetap.
Kepala Desa Perdana, Pitoyo, menegaskan bantuan tunai seperti BLT hanya memberi manfaat jangka pendek. Karena itu, pihaknya merancang program “kebun usaha” yang dikelola secara kolektif oleh warga.
“Kita harus mulai beralih dari pola konsumtif ke pola produktif. Kebun usaha ini bisa menjadi sumber pendapatan baru yang dikerjakan bersama-sama,” jelasnya, Rabu (10/9/2025).
Selain menggarap sektor pertanian, Desa Perdana juga memperkuat peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Saat ini, BUMDes tengah menyelesaikan proses legalisasi di tingkat kementerian, setelah sebelumnya rampung di tingkat kabupaten. Pitoyo menyebut, penguatan BUMDes adalah salah satu kunci untuk mendorong kemandirian desa.
Salah satu unit usaha yang mulai berjalan adalah penyewaan truk angkutan. Menariknya, sistem pengelolaan dilakukan secara digital melalui aplikasi CPU yang terhubung langsung dengan perusahaan-perusahaan di sekitar wilayah.
“Truk ini aset desa, jadi hasilnya kembali ke masyarakat. Dengan sistem aplikasi, semua lebih transparan dan akuntabel,” ujarnya.
Transformasi ini, lanjut Pitoyo, sekaligus mengubah cara desa mengelola aset. Dari sistem manual, kini desa didorong masuk ke era digitalisasi, sehingga dapat memperluas jaringan usaha sekaligus meningkatkan efisiensi. Ia bahkan terlibat langsung dalam memastikan integrasi sistem berjalan optimal.
Dengan kombinasi kebun usaha dan inovasi BUMDes digital, Desa Perdana menargetkan terciptanya fondasi ekonomi yang mandiri. Program ini diharapkan tidak hanya mengurangi ketergantungan terhadap bantuan sosial, tetapi juga membuka lapangan kerja baru bagi keluarga prasejahtera.
“Kalau desa bisa mandiri, masyarakat tidak lagi menunggu bantuan. Mereka bisa bekerja, menghasilkan, dan merasakan hasil pembangunan secara nyata,” pungkas Pitoyo. (adv)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *