TENGGARONG,suarabalikpapan.com — Desa Jonggon Jaya, Kecamatan Loa Kulu, tengah mengembangkan sektor perkebunan dan pertanian sebagai salah satu potensi unggulan desa. Kepala Desa Jonggon Jaya, Muhammad Kholil, mengungkapkan bahwa komoditas kopi saat ini menjadi fokus utama pengembangan.
Menurutnya, dari total lahan yang tersedia, baru sekitar 3–4 hektare kopi yang sudah bisa dipanen. Sementara itu, lahan lainnya masih dalam tahap penanaman dan persemaian. Jenis kopi yang ditanam adalah Robusta, karena lebih cocok dengan kondisi geografis Jonggon Jaya.
“Kalau Arabika kurang cocok, karena membutuhkan suhu dingin dan dataran tinggi,” jelas Kholil Senin (11/8/2025).
Pengembangan kopi di desa ini juga mendapat dukungan dari program nasional perkebunan berupa bantuan alat pertanian. Pengajuan dilakukan melalui kelompok tani, dan kini peralatan tersebut sudah dimanfaatkan. Namun, kendala utama saat ini masih pada ketersediaan bahan baku, karena sebagian besar tanaman kopi baru mulai ditanam.
Meski begitu, produk kopi Jonggon Jaya sudah ada yang dijual baik dalam bentuk biji maupun bubuk, meski belum dipasarkan secara resmi. Potensi harga kopi dinilai cukup menjanjikan.
“Kopi mentah setelah dikupas kulit bisa mencapai Rp70 ribu per kilogram, sementara yang sudah disangrai bisa berkisar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram, tergantung jenisnya,” ungkap Kholil.
Pemerintah juga memberikan dukungan berupa mesin pengolahan kopi. Namun, inisiatif awal tetap datang dari masyarakat yang mencari bibit, baik dari Lampung maupun dari bibit lokal yang kemudian dikembangkan lagi. Saat ini, petani sudah mampu menyemai bibit sendiri tanpa harus membeli.
Selain kopi, masyarakat Jonggon Jaya juga mulai menanam cokelat sebagai alternatif komoditas. Lahan untuk kopi dan cokelat tersebar di beberapa titik, dengan kondisi sebagian masih masa pertumbuhan, sementara sebagian lainnya baru tahap persemaian.
Tidak hanya perkebunan, sektor padi juga masih menjadi andalan desa. Rata-rata hasil panen mencapai 3–4 ton per hektare. Namun, Kholil mengakui produktivitas saat ini menurun dibanding awal masa transmigrasi yang bisa mencapai 6–7 ton per hektare.
“Kesuburan tanah berkurang akibat degradasi dan penggunaan pupuk kimia berlebihan. Karena itu, petani mulai beralih ke cara organik, misalnya dengan menyebar jerami sisa panen ke sawah untuk menjaga kesuburan tanah,” katanya.
Beberapa petani juga sudah menggunakan pupuk kandang meski jumlahnya terbatas. Hasilnya, produksi padi terbukti meningkat.
Dari sisi ketersediaan air, sejauh ini masih cukup untuk memenuhi kebutuhan pertanian. Namun, saat musim kemarau debit air berkurang. Desa Jonggon Jaya memiliki embung desa sebagai sumber air, tetapi jika kemarau panjang, bantuan tambahan sangat dibutuhkan.
“Saat ini sebagian petani menunggu turunnya hujan untuk memulai penanaman kembali,” tutur Kholil.
Dengan pengembangan kopi, cokelat, serta perbaikan pola pertanian padi, Desa Jonggon Jaya diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.(adv)
Desa Jonggon Jaya Kembangkan Potensi Kopi hingga Pertanian Padi












