KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

Festival Cenil Desa Kota Bangun III 2025: Lestarikan Tradisi dan Dorong UMKM Lokal

26
×

Festival Cenil Desa Kota Bangun III 2025: Lestarikan Tradisi dan Dorong UMKM Lokal

Share this article
Festival Cenil 2025 di Desa Kota Bangun III, Kutai Kartanegara, hadir meriah dengan atraksi budaya, kuliner tradisional, dan partisipasi UMKM.

TENGGARONG, suarabalikpapan.com – Pemerintah Desa Kota Bangun III, Kecamatan Kota Bangun Darat, Kabupaten Kutai Kartanegara, kembali menggelar Festival Cenil 2025 pada Rabu (30/4/2025). Acara yang berlangsung meriah di Gedung Balai Pertemuan Umum (BPU) ini dibuka secara resmi oleh Plt Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kukar, Taufik Zulfian Noor.
Festival yang telah menjadi agenda tahunan sejak 2018 ini tak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga menjadi sarana penting dalam melestarikan budaya lokal dan memperkuat identitas desa. Sajian utama yang menjadi ikon festival adalah cenil, makanan tradisional berbahan dasar singkong, yang mencerminkan kearifan lokal dan filosofi kebersamaan.
“Festival ini bukan hanya soal perayaan, tapi juga tentang menjaga budaya dan memperkenalkan potensi desa ke khalayak lebih luas, baik dari sisi pariwisata, seni, maupun UMKM,” ujar Taufik dalam sambutannya.
Festival Cenil 2025 menampilkan berbagai kegiatan menarik, di antaranya pertunjukan seni dan budaya, bazar kuliner tradisional, bazar buku, hingga pameran produk UMKM lokal. Partisipasi pelaku usaha kecil ini menjadi bukti nyata bahwa festival juga berfungsi sebagai penggerak ekonomi kreatif dan kerakyatan.
Taufik mengapresiasi inovasi masyarakat Desa Kota Bangun III yang konsisten menghadirkan ide-ide segar setiap tahunnya. Ia menyebut semangat gotong royong warga patut menjadi contoh bagi desa lain di Kukar.
“Setiap tahun selalu ada hal baru. Ini menunjukkan kreativitas luar biasa warga. Festival ini adalah cerminan semangat kolaboratif dan inklusif membangun desa,” tambahnya.
Lebih dari sekadar panganan tradisional, cenil memiliki makna filosofis. Warna-warninya mencerminkan keragaman dan kolaborasi yang membentuk harmoni sosial. Tak heran jika makanan ini dipilih sebagai simbol utama festival—menggambarkan persatuan serta semangat inklusif dalam membangun desa.
Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara pun memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini. Dalam usia ke-42 tahun, Desa Kota Bangun III diharapkan terus tumbuh menjadi desa mandiri dan berdaya saing di tingkat regional.
“Sinergi seperti ini yang membawa kemajuan. Mari terus kembangkan potensi desa untuk kesejahteraan bersama,” tutup Taufik dalam pernyataannya.(adv)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *