Provinsi Kaltim

Gubernur Kaltim: Pencegahan Karhutla Lebih Penting dari Pemadaman

158
×

Gubernur Kaltim: Pencegahan Karhutla Lebih Penting dari Pemadaman

Share this article
Gubernur KalTIM H Rudy Mas’ud menegaskan bahwa pencegahan karhutla jauh lebih penting dibanding pemadaman.

BALIKPAPAN,suarabalikpapan.com – Menyongsong puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung pada Juli hingga Agustus 2025, Gubernur Kalimantan Timur H Rudy Mas’ud menekankan bahwa pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan langkah utama yang jauh lebih penting daripada sekadar upaya pemadaman.
Pernyataan itu disampaikan Gubernur Rudy Mas’ud saat membuka acara Konsolidasi Kesiapsiagaan Personel dan Peralatan Pengendalian Kebakaran Lahan di Hotel Novotel Balikpapan, Jumat (4/7/2025). Acara tersebut diinisiasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), serta dihadiri oleh Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq dan perwakilan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), termasuk Ketua Bidang Sustainability Gapki, Bambang Dwi Laksono.
“Sebanyak 99 persen penyebab karhutla di Indonesia adalah akibat ulah manusia. Artinya, ini adalah persoalan perilaku. Maka dari itu, pencegahan bisa dan harus kita lakukan bersama,” tegas Gubernur yang akrab disapa Harum ini.
Lebih lanjut, Harum menambahkan bahwa meskipun para petugas selalu memegang prinsip “pantang pulang sebelum padam”, upaya pencegahan tetap menjadi solusi utama menyelamatkan lingkungan.
“Semangat pantang pulang memang penting, tapi pencegahan adalah kunci. Ini menyangkut disiplin, kesadaran, dan komitmen kita bersama,” tambahnya.
Gubernur Harum juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pengendalian karhutla, mengingat Kalimantan Timur merupakan wilayah rawan, khususnya di lahan gambut dan hutan sekunder. Ia mengajak pemerintah, dunia usaha, serta masyarakat untuk saling bersinergi mengantisipasi bencana.
Sementara itu, Menteri LHK Hanif Faisol Nurofiq mengapresiasi penurunan signifikan titik api di Kalimantan Timur sepanjang paruh pertama tahun 2025.
“Hingga pertengahan tahun ini, hanya tercatat 15 titik api di Kaltim. Ini menunjukkan kemajuan besar dibanding periode yang sama tahun lalu,” jelasnya.
Menurut Hanif, penurunan ini tak lepas dari faktor curah hujan yang masih tinggi serta peningkatan kesadaran dan kepedulian berbagai pihak. Namun, ia mengingatkan agar pelaku usaha, khususnya di sektor perkebunan sawit, tidak terlena.
“Pengusaha harus terus menyiapkan sarana, prasarana, anggaran, serta melibatkan masyarakat melalui Kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA). Kita tidak bisa bekerja sendiri-sendiri dalam menghadapi karhutla,” tegas Hanif.
Menteri Hanif juga menekankan perlunya peningkatan sistem deteksi dini dan pelaporan titik api, serta pelatihan rutin kepada petugas di lapangan agar respons cepat bisa dilakukan jika terjadi kebakaran.(SB-02/ADV/DISKOMINFO).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *