KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

Program “Satu Desa, Satu Dokter” di Kukar: Strategi Tangani Stunting dan Perkuat Layanan Kesehatan Pedesaan

22
×

Program “Satu Desa, Satu Dokter” di Kukar: Strategi Tangani Stunting dan Perkuat Layanan Kesehatan Pedesaan

Share this article
Bupati Kukar Edi Damansyah

TENGGARONG,suarabalikpapan.com – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus memperkuat upaya peningkatan layanan kesehatan masyarakat desa melalui program strategis bertajuk “Satu Desa, Satu Dokter”.
Bupati Kukar, Edi Damansyah, menegaskan pentingnya penanganan serius terhadap 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) sebagai langkah kunci dalam menekan angka stunting. Ia menyebut, apabila program ini dijalankan secara konsisten dan kolaboratif, maka hasil positif akan terlihat dalam jangka panjang.
“Konsepnya sebenarnya sederhana. Saya berterima kasih kepada Dinas Kesehatan, Puskesmas, Camat, Kades, para kader, dan Ketua RT atas kerja kerasnya. Sekarang tinggal menjaga dan mempertahankan hasilnya,” kata Edi saat menyampaikan arahannya pada Selasa (13/5/2025).
Melihat minimnya tenaga medis, terutama dokter umum di puskesmas pedesaan, Pemkab Kukar mendorong realisasi program “Satu Desa, Satu Dokter” sebagai solusi jangka panjang. Untuk itu, Kukar menjalin kerja sama dengan berbagai universitas untuk mencetak tenaga kesehatan baru yang berasal dari daerah sendiri.
“Dari data yang kami miliki, pemenuhan dokter umum masih sangat minim. Karenanya, kita perlu bekerja sama dengan universitas untuk mencetak dokter-dokter dari anak-anak Kukar sendiri,” ujarnya.
Bupati Edi juga menyoroti keberhasilan tenaga kesehatan lokal, seperti Kepala Puskesmas Muara Muntai yang merupakan putra daerah. Di wilayah lain seperti Kenohan dan Kahala, terdapat pula anak-anak lokal yang kembali untuk mengabdi.
Selain itu, Pemkab juga mengisi puskesmas pembantu (pusban) dengan tenaga kesehatan lokal. Seleksi dilakukan berdasarkan rekomendasi bidang kesehatan dan mereka digaji menggunakan skema Bantuan Keuangan Khusus Desa (BKKD).
“Karena berasal dari desa masing-masing, para tenaga kesehatan ini lebih punya komitmen dan ikatan emosional untuk mengabdi. Ini terbukti meningkatkan kinerja pusban secara signifikan,” jelas Edi.
Kebijakan ini diperkuat dengan penyediaan beasiswa tematik, khususnya di bidang pendidikan kedokteran. Pemkab Kukar telah memperpanjang MoU dengan Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), memastikan beasiswa diarahkan sesuai kebutuhan daerah.
“Kami ingin investasi beasiswa ini tepat sasaran, mencetak dokter-dokter profesional dari daerah kita sendiri,” tambahnya.
Beasiswa tidak hanya terbatas pada pendidikan kedokteran, tetapi juga mencakup bidang strategis lainnya seperti akuntansi, pertanahan, transportasi darat, hingga persiapan masuk TNI dan Polri. Program ini sejalan dengan visi besar Edi Damansyah dalam menciptakan sumber daya manusia unggul di berbagai sektor.
Bupati Edi menegaskan bahwa misi besar Pemkab Kukar adalah agar setiap desa memiliki minimal satu anak yang menjadi dokter. Ini sejalan dengan program “Satu KK Satu Sarjana” dan “Satu Desa Satu Hafiz Quran” yang sudah berjalan sebelumnya.
“Kita tahu biaya pendidikan dokter mahal, makanya kita butuh program pendukung. Tujuan kita jelas: desa-desa di Kukar harus punya masa depan lebih mandiri dan sejahtera,” tegasnya.
Di akhir arahannya, Edi mengajak semua elemen masyarakat—pemerintah, dunia pendidikan, dan warga desa—untuk bersama-sama mengawal program unggulan ini.
“Kalau ingin desa maju dan mandiri, maka investasi pada pendidikan dan kesehatan anak-anak desa adalah kunci. Ini adalah bagian dari upaya kita menyiapkan masa depan Kukar yang lebih sejahtera,” tutupnya.(adv)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *