TENGGARONG, suarabalikpapan.com – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) tengah menyusun dokumen Rencana Induk Pengelolaan Keanekaragaman Hayati atau RIP-Kehati Kukar 2025–2029. Dokumen ini menyoroti ancaman serius terhadap flora dan fauna lokal akibat ekspansi industri yang masif di wilayah tersebut.
DLHK Kukar menggandeng organisasi internasional GIZ serta akademisi dari berbagai perguruan tinggi guna memastikan proses pendataan yang ilmiah dan menyeluruh. Fokus utama dari penyusunan RIP-Kehati ini adalah identifikasi dampak industri pertambangan dan perkebunan terhadap habitat satwa liar, khususnya spesies endemik Kalimantan.
“Apakah satwa-satwa tertentu sudah punah, atau masih bisa diselamatkan? Itu yang ingin kami jawab melalui penyusunan dokumen ini,” ujar Taufiq, Sekretaris DLHK Kukar, Jumat (18/7/2025).
Pembukaan lahan berskala besar telah menyebabkan degradasi habitat, memaksa satwa seperti bekantan, burung enggang, dan spesies lain untuk berpindah atau bahkan terancam punah. Selain itu, perubahan vegetasi karena dominasi tanaman non-lokal dalam perkebunan dan pertanian memperburuk kondisi keanekaragaman hayati daerah.
Tak hanya mengidentifikasi masalah, dokumen RIP-Kehati Kukar juga menawarkan solusi konkret, antara lain: Penguatan konservasi habitat alami, Rehabilitasi ekosistem yang rusak serta Pelestarian dan penanaman kembali tanaman endemik Kukar.
DLHK Kukar menekankan pentingnya menghidupkan kembali kekayaan hayati lokal yang hampir punah, seperti durian netam dan buah lokal lainnya, yang selama ini terpinggirkan oleh varietas unggul dari luar Kalimantan.
“Kita punya durian netam, buah lokal lainnya juga banyak, tapi sekarang nyaris hilang. Ini yang ingin kita pulihkan,” tegas Taufiq.
Sebagai langkah strategis, DLHK Kukar juga merencanakan pembangunan Taman Kehati di Pulau Kumala. Taman ini akan difungsikan sebagai pusat konservasi tanaman lokal, ruang edukasi lingkungan, dan destinasi wisata berbasis alam.
Pemilihan Pulau Kumala dinilai tepat karena lokasinya yang strategis dan representatif untuk tujuan konservasi dan edukasi. Diharapkan, kembalinya vegetasi asli dapat memulihkan keseimbangan ekosistem dan memperkuat ketahanan hayati Kukar ke depan.
“Kami berharap, dengan kembalinya vegetasi asli, maka keseimbangan ekosistem juga dapat pulih. Selain memperkuat ketahanan hayati, hal ini juga mendukung keberadaan satwa-satwa lokal seperti bekantan,” tutup Taufiq.(adv)
RIP-Kehati Kukar 2025–2029, DLHK Fokus Lindungi Satwa Endemik dan Pulihkan Habitat dari Ancaman Industri












