Kabupaten Paser

Usaha Kerupuk Kelor, Produk Andalan Desa Kendarom

205
×

Usaha Kerupuk Kelor, Produk Andalan Desa Kendarom

Share this article
Kerupuk kelor produk UMKM Desa Kendarom, Kecamatan Kuaro, Kabupaten Paser

TANA PASER,suarabalikpapan.com-Kerupuk kelor merupakan salah satu usaha kuliner yang menjanjikan untuk ibu rumah tangga. Seperti yang dikembangkan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Desa Kendarom, Kecamatan Kuaro, Kabupaten Paser.

Eva Sasmitosari selaku penggagas pembuatan kerupuk kelor Desa Kendarom, mengatakan, kerupuk kelor yang diproduksinya mulai dipasarkan ke beberapa daerah di luar Paser. “Walaupun sempat vakum, alhamdulillah sudah mulai ada yang pesan dari luar daerah,” kata Eva, kepada media ini, Jumat (8/7/2022).

Eva melanjutkan, pertama kali membuat olahan tersebut acap kali mengalami kegagalan. Meski pembuatan kerupuk kelor ada kendala, namun dirinya tak pantang menyerah, karena menurutnya kegagalan sudah biasa. “Awalnya sempat gagal, karena membuat kerupuk kelor harus ada perlakuan khusus, utamanya dan proses penjemuran harus kering di atas 60 persen dalam sehari jika tidak maka akan berdampak pada kualitas,” jelasnya.

Jika cuaca tidak bersahabat kata Eva, yang dikhawatirkan adalah proses pengeringan, sebab sehari tidak mencapai 60 persen kering sehingga dapat menimbulkan kerugian. Untuk menghindari hal itu, langkah lain yang bisa dilakukan yakni pengeringan menggunakan oven. “Alternatifnya menggunakan oven, tapi saya gak punya dan harganya cukup mahal, harapannya kedepan bisa dibantu oleh pemerintah daerah,” harapnya.

Eva Sasmitosari selaku penggagas pembuatan Kerupuk Kelor Desa Kendarom

Eva mengaku, Dinas Pemberdayaan Maysarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Paser telah beberapa kali melakukan pembinaan terhadap para pelaku UMKM termasuk dirinya hinga bisa dipasarkan ke luar daerah. “Sudah pernah dipasarkan keluar daerah seperti Jawa Tengah dan Banjarmasin, mereka senang dan bahkan pesan kembali tapi belum bisa produksi banyak karena pengerjaannya masih sendiri,” akunya.

Sebungkus kerupuk kelor yang diproduksi, kata Eva dibandrol Rp10 ribu rupiah dan harganya cukup bersahabat. “Kita jual dengan harga Rp10 ribu pe kemasan, kalau untuk kerupuk kelor mentahnya dibandrol Rp35 ribu untuk ukuran setengah kilogram,” ujarnya.

Menurutnya, kerupuk olahannya selain tidak menggunakan bahan pengawet juga bisa bertahan lama tanpa berubah rasa atau rusak. “Kita buat ini tanpa pengawet, bahannya hanya tepung beras, daun kelor, bawang putih, garam dan beberapa bahan lainnya. Ini juga bisa disimpan sampai 9 bulan,” akunya.

Eva berharap, kerupuk kelor olahannya itu dapat menjadi ciri khas Desa Kendarom, kalau perlu dimasukkan dalam pusat oleh-oleh Kabupaten Paser. “Jika sudah ada oven diharapkan hasilnya bisa maksimal dan bisa membantu perputaran ekonomi di Paser khususnya di desanya,” harapnya.(adv/sb-06)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *