DISDAG BALIKPAPAN

Urgensi Pembangunan Pasar Induk Balikpapan untuk Ketahanan Pangan dan Stabilitas Harga

333
×

Urgensi Pembangunan Pasar Induk Balikpapan untuk Ketahanan Pangan dan Stabilitas Harga

Share this article
Kepala Dinas Perdagangan Kota Balikpapan Haemusri Umar


BALIKPAPAN, suarabalikpapan.com — Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan kembali menegaskan bahwa pembangunan pasar induk merupakan kebutuhan mendesak untuk memperkuat ketahanan pangan, menstabilkan harga, dan memperbaiki sistem distribusi komoditas. Selama ini, Balikpapan sangat bergantung pada pasokan bahan pangan dari luar daerah.
Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Balikpapan, Haemusri Umar, menjelaskan bahwa Balikpapan merupakan kota dengan tingkat konsumsi yang tinggi, sementara kapasitas produksi pangan lokal sangat terbatas. Kondisi ini membuat distribusi dari Jawa dan Sulawesi menjadi tulang punggung pemenuhan kebutuhan pasar.
“Balikpapan ini kota yang konsumtif. Hampir 90 persen pangan kita dipasok dari Jawa dan Sulawesi. Pasar induk sangat dibutuhkan untuk memperkuat distribusi dan ketahanan pangan,” ujar Haemusri usai rapat paripurna di Hotel Grand Senyiur, Senin (24/11/2025).
Selain melayani Kota Balikpapan, pasar induk juga diproyeksikan menjadi simpul distribusi regional hingga ke kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang kebutuhan pangannya diprediksi meningkat signifikan.
Dengan adanya pasar induk, rantai pasok diharapkan lebih pendek sehingga harga komoditas lebih stabil, biaya logistik menurun, serta ketersediaan stok lebih terjamin.
“Peran pemerintah adalah menyiapkan sarana, prasarana, dan utilitas agar sistem pangan kita berjalan efisien. Pasar induk adalah fondasi pentingnya,” tegas Haemusri.
Meski dibutuhkan, proyek pasar induk seluas 11 hektare ini masih menghadapi kendala lahan. Sekitar 4 hektare area yang tercatat sebagai aset pemerintah diklaim oleh sejumlah warga.
Haemusri menyebut Disdag tidak memiliki kewenangan menjelaskan detail sengketa lahan dan menyarankan penelusuran lebih lanjut ke Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD).
Menurut laporan awal BKAD, klaim lahan muncul dari riwayat jual-beli masa lalu. Sejumlah ahli waris kini mengajukan pengakuan atas sebagian tanah sehingga penyelesaian administratif dan legal harus dituntaskan sebelum pekerjaan konstruksi dimulai.
Walau terkendala sengketa, proses perencanaan tetap berjalan. Disdag sedang menyelesaikan master plan yang akan menjadi dasar pengajuan pembiayaan pembangunan.
Skema pendanaan bersifat terbuka, mulai dari: APBD Kota Balikpapan, APBD Provinsi Kaltim, dukungan lembaga keuangan hingga potensi dukungan APBN melalui bantuan presiden.
“Kita tetap buat master plan. Setelah rampung pada 2025, kita berharap bisa mengajukan bantuan presiden agar pembangunan bisa terlaksana,” ujar Haemusri.
Pembangunan pasar induk dinilai akan membawa manfaat besar bagi stabilitas ekonomi Balikpapan. Infrastruktur ini diyakini dapat: menekan fluktuasi harga bahan pokok, memotong rantai distribusi yang selama ini terlalu panjang, menurunkan biaya logistik, memperkuat cadangan pangan dan meningkatkan daya tawar pedagang dalam memperoleh pasokan kompetitif.
Selain itu, keberadaan pasar induk akan memperkokoh posisi Balikpapan sebagai kota strategis sektor perdagangan dan logistik di Kalimantan, terutama dengan berkembangnya IKN yang memerlukan suplai pangan berkelanjutan.
Optimisme Pemkot: Pembangunan Segera Dieksekusi
Pemkot Balikpapan terus mendorong penyelesaian lahan melalui koordinasi lintas instansi. Haemusri menegaskan Disdag akan mengawal seluruh proses hingga proyek siap dieksekusi.
“Pasar induk bukan hanya proyek fisik, tapi kebutuhan strategis kota. Ini investasi jangka panjang untuk ekonomi, stabilitas harga, dan ketahanan pangan Balikpapan,” tutupnya. (sb-02)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *