BALIKPAPAN,suarabalikpapan.com – Ketergantungan Kota Balikpapan terhadap pasokan pangan dari luar daerah masih sangat tinggi. Pemerintah Kota (Pemkot) mencatat sekitar 90 persen kebutuhan pangan masyarakat masih dipenuhi dari luar wilayah, bahkan untuk komoditas beras hampir seluruhnya berasal dari daerah lain.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Balikpapan, Sri Wahjuningsih, mengatakan kondisi tersebut tidak terlepas dari keterbatasan lahan pertanian di kota tersebut. Meski demikian, pemerintah tetap berupaya memperkuat sektor pertanian lokal melalui berbagai program pembinaan bagi petani.
“Untuk beras, ketergantungan kita hampir 100 persen dari daerah lain karena lahan pertanian yang terbatas,” ujarnya, Selasa (10/3/2026).
Dalam rencana program tahun 2027, DKP3 Balikpapan tetap menjalankan program yang selaras dengan Rencana Strategis (Renstra) yang telah disusun. Fokus utama diarahkan pada penguatan kapasitas kelembagaan petani serta peningkatan produksi di wilayah yang masih memungkinkan untuk dikembangkan.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperkuat peran penyuluh pertanian dalam mendampingi kelompok tani. Pendampingan dilakukan secara berkelompok agar proses pembinaan berjalan lebih efektif.
Sri Wahjuningsih, yang akrab disapa Yuyun, menegaskan bahwa penyuluh memiliki peran penting dalam meningkatkan kemampuan petani, khususnya dalam pengelolaan usaha pertanian.
“Penyuluh pertanian memiliki peran penting dalam mendampingi petani, terutama dalam meningkatkan tata kelola pertanian dan memperkuat kelembagaan kelompok tani,” jelasnya.
Melalui pendekatan tersebut, para petani diharapkan mampu meningkatkan kemampuan dalam mengelola usaha tani, mulai dari perencanaan produksi hingga pemasaran hasil panen.
Selain sektor pertanian, DKP3 juga memberikan perhatian pada sektor peternakan. Namun, program yang dijalankan lebih menitikberatkan pada pembinaan dan pendampingan peternak.
Adapun bantuan langsung kepada peternak masih sangat bergantung pada ketersediaan anggaran daerah.
“Untuk peternakan sifatnya lebih kepada pembinaan. Bantuan biasanya menyesuaikan dengan kondisi anggaran yang tersedia,” kata Yuyun.
Sementara itu, produksi padi dari lahan sawah yang ada di Balikpapan saat ini umumnya hanya mampu memenuhi kebutuhan petani sendiri. Sebagian hasil panen juga dijual kepada Perum Bulog sebagai bagian dari upaya memperkuat cadangan pangan pemerintah.
Saat ini Bulog memberikan jaminan harga pembelian gabah sekitar Rp6.500 per kilogram, yang dinilai cukup membantu petani dalam menjaga stabilitas harga.
“Biasanya petani senang kalau gabahnya dibeli Bulog karena ada kepastian harga,” ujarnya.
Dengan berbagai keterbatasan yang ada, Pemerintah Kota Balikpapan terus berupaya mendorong keberlanjutan sektor pertanian melalui penguatan kapasitas petani, pendampingan kelompok tani, serta optimalisasi lahan pertanian yang masih tersedia.
Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan ketahanan pangan daerah sekaligus mengurangi ketergantungan Balikpapan terhadap pasokan pangan dari luar wilayah.(Adv Diskominfo Balikpapan)
Ketergantungan Pangan Balikpapan Masih 90 Persen dari Luar Daerah, DKP3 Perkuat Kapasitas Petani Lokal












