by

May Day, DPRD Kutim RDP dengan Serikat Pekerja

SANGATTA,suarabalikpapan.com-Memperingati May Day di tengah masa pandemi dan bulan suci Ramadan, gabungan serikat pekerja/buruh di Kutai Timur tetap melakukan aksi, namun dengan cara dan suasana berbeda. Jika biasanya digelar bertepatan 1 Mei dan melibatkan ribuan massa, May Day kali ini diundur dan hanya berupa rapat dengar pendapat (RDP) dengan peserta yang diperkirakan maksimal 50 orang.

Puluhan pejuang buruh yang antara lain FSPKEP SPSI, KASBI, SPKEP, SBSI, SBSI 97, SBSI 92, dan PPMI memadati ruang Hearing Gedung DPRD Kutim, Senin (3/5/2021). Mereka disambut oleh Ketua DPRD Kutim Joni, Wakil Ketua II DPRD Kutim Arfan beserta anggota DPRD, Basti Sanggalagi, Jimmy, Asmawardi dan Siang Gea serta Ketua Pemebentukan Peraturan Daerah DPRD Kutim, Agusriansyah Ridwan.

Dari kalangan pemeritah hadir Bupati Kutim Ardiansyah Suliaman, Wakil Bupati Kutim Kasmidi Bulang, Kadisnakertrans Sudirman Latif dan Bagian Pengawasan dengan mengundang pihak BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagankerjaan. Begitupun unsur Forkopimda, yaitu Kapolres Kutim AKBP Welly Djatmoko, hadir bersama Dandim 0909 Letkol CZI Pabate dan Danlanal Sangatta.

Rapat dengar pendapat yang berlangsung mulai pukul 10.00-15.00 Wita berjalan damai dan kondusif, dengan masing-masing serikat pekerja/buruh membatasi anggota yang mengikuti jalannya hearing.

Dalam audiensi ini, seluruh koordinator serikat, seperti Ketua PC FSPEKEP SPSI Kutim Ridwan menyebutkan, aksi di momen May Day tetap harus digelar karena arah ketenagakerjaan secara nasional maupun regional di Kaltim dan Kutim, belum sepenuhnya berpihak kepada pekerja/buruh. Merekapun satu persatu menyampaikan tututan masing-masing. “Undang Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja cenderung mereduksi hak-hak pekerja,” ujar Ridwan. Tak hanya itu, banyak lagi tuntutan buruh dalam audiensi tersebut. Setidaknya ada 10 tuntutan yang disampaikan.(adv/sb-04)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita terkini