by

HWPL Gelar Konferensi Daring Antar Benua, Bahas Peran Pendidikan untuk Perdamaian

BALI,suarabalikpapan.com-Sebanyak 2.400 peserta pra-registrasi dari 70 negara, mengikuti konferensi perdamaian antar-benua secara daring untuk membahas peran pendidikan perdamaian, pada Minggu (24/1/2021). Konferensi dikkuti tokoh-tokoh sosial, pendidikan, agama, dan politik dunia termasuk Ketua Pengadilan Tinggi Kairo, Mantan Presiden Dewan Hak Asasi Manusia PBB, mantan Penasihat Kementerian Pendidikan Guatemala, Uskup Agung Emeritus dari Keuskupan Agung Davao Filipina serta Ketua HWPL Man Hee Lee.

Konferensi digelar dalam rangka Hari Perdamian  LSM internasional Heavenly Culture World Peace Restoration of Light (HWPL) yang berbasis di Korea di bawah naungan Departemen Komunikasi Global (DGC) dan Dewan Ekonomi dan Sosial (ECOSOC) PBB.

Hari Perdamaian HWPL dideklarasikan oleh Provinsi Maguindanao di Filipina  diusulkan Ketua HWPL, Man Hee Lee selaku veteran perang Korea yang mengakibatkan korban sekitar 120 ribu orang.

Para peserta konferensi perdamaian antar-benua secara daring yang digelar HWPL

Hari Perdamaian HWPL tahun ini mengusung tema “The Role of Peace Education in Building a Peaceful World” yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang pendidikan perdamaian di seluruh dunia dan membentuk global platform bagi para pendidik perdamaian untuk mengimplementasikan pendidikan perdamaian dalam sistem pendidikan masing-masing negara.

“Sekarang, Mindanao bukan lagi tempat konflik melainkan model perdamaian yang bakal diikuti dunia. Dulu, orang-orang di daerah ini menodongkan senjata ke satu sama lain. Sekarang, mereka membagikan makanan sambil duduk di satu meja meskipun agama dan ideologi mereka berbeda-beda. Siswa yang terlatih membunuh kini belajar tentang nilai hidup dan perdamaian yang berharga melalui Pendidikan Perdamaian HWPL,” kata Ketua HWPL Man Hee Lee dalam sambutannya.

Hal senada diungkapkapkan Dr  Ronald Adamat, Komisioner Komisi Pendidikan Tinggi Filipina (CHED), yang telah berupaya untuk melaksanakan Pendidikan Perdamaian HWPL dengan mengintegrasikan pendidikan perdamaian ke dalam kurikulum pendidikan tinggi yang relevan, terutama pendidikan perdamaian di Filipina.

“Pemuda akan berjuang untuk perdamaian tetapi belum diberi keterampilan, pemahaman, atau kesempatan yang cukup untuk berbicara demi perdamaian. Saya dengan sepenuh hati mendukung Pendidikan Perdamaian HWPL. Ini meningkatkan kesadaran nilai-nilai yang sangat dibutuhkan bagi kaum muda kita supaya mereka dapat menjadi pembawa damai. Anak-anak kita yang akan menjadi pemimpin di masa depan dan harus membangkitkan perubahan positif dunia, perlu dididik tentang bagaimana pembangunan perdamaian beroperasi secara efektif. Melalui pendidikan, pembangunan dunia yang benar-benar damai melaui edukasi, akan menjadi kenyataan pada suatu hari, ” kata Ronald Adamat.

Para peserta konferensi perdamaian antar-benua secara daring yang digelar HWPL

Pendidikan Perdamaian HWPL  terdiri dari 12 pelajaran, bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya mewujudkan budaya perdamaian sehingga melatih para pengajar dan pelajar yang memiliki nilai perdamaian. Sejak 2016, sekitar 200 lembaga pendidikan di 34 negara, termasuk India, Israel, dan Filipina, telah ditetapkan sebagai Akademi Perdamaian HWPL. Selain itu,  Kementerian Pendidikan dari 9 negara telah menandatangani MOA (Memorandum of Agreement) untuk kerja sama pendidikan perdamaian.

“Perjanjian Damai Mindanao pada tahun 2014 menjadi model yang hebat bagi negara-negara seperti Afghanistan yang mengalami perang dan konflik. Saya berharap, mujizat kedamaian di Mindanao terjadi di Afghanistan,” harap Ronald.(rls/sb-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita terkini