JAKARTA,suarabalikpapan.com – Malnutrisi masih menjadi tantangan serius dalam upaya menciptakan Generasi Emas Indonesia 2045. Meski pemerintah terus mengintensifkan berbagai program perbaikan gizi, angka stunting di sejumlah wilayah masih tergolong tinggi. Berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Kalimantan Timur tercatat mencapai 22,2 persen.
Para ahli menilai persoalan gizi pada anak tidak hanya berdampak terhadap pertumbuhan fisik, tetapi juga meningkatkan risiko berbagai penyakit infeksi yang dapat memengaruhi kualitas hidup hingga usia dewasa.
Ketua Pharmacoepidemiology Research Group (PharmaEpid-RG) Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin, Associate Professor Muh. Akbar Bahar, Ph.D., menegaskan bahwa intervensi nutrisi harus dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi kesehatan masyarakat.
“Ketika seorang anak mendapatkan nutrisi yang memadai, manfaatnya jauh melampaui peningkatan berat badan maupun tinggi badan. Risiko infeksi menurun, kebutuhan berobat berkurang, dan kualitas hidup anak menjadi lebih baik,” ujar Akbar saat mempresentasikan hasil penelitiannya dalam ajang ISPOR Europe 2025 di Glasgow, Skotlandia.
Penelitian berjudul A Nutrient-Dense Formula in Undernourished Children in Indonesia: A Cost-Effective Strategy mengkaji manfaat penggunaan Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) atau Nutrient-Dense Formula (NDF) bagi anak-anak yang mengalami malnutrisi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi PKMK berpotensi menurunkan prevalensi stunting hingga 34,5 persen. Selain itu, angka wasting diperkirakan turun sebesar 72,7 persen, sementara kasus underweight dapat berkurang hingga 51,7 persen.
Apabila diterapkan secara luas, program tersebut diproyeksikan mampu mencegah sekitar 1,6 juta kasus stunting, 1,2 juta kasus wasting, serta 1,9 juta kasus underweight pada anak-anak Indonesia.
Selain meningkatkan status gizi, penelitian tersebut juga menemukan dampak signifikan terhadap penurunan berbagai penyakit infeksi pada anak.
“Intervensi nutrisi bukan sekadar bantuan makanan. Ini merupakan strategi kesehatan yang mampu menghasilkan manfaat klinis sekaligus manfaat ekonomi yang sangat besar,” kata Akbar.
Berdasarkan hasil pemodelan penelitian, kasus tuberkulosis (TB) berpotensi turun hingga 47,2 persen, sedangkan pneumonia dapat berkurang sebesar 44,7 persen. Tak hanya itu, jutaan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare juga diperkirakan dapat dicegah melalui perbaikan status gizi anak.
Manfaat intervensi nutrisi tidak hanya dirasakan dari sisi kesehatan, tetapi juga ekonomi. Pengurangan kasus TB, pneumonia, ISPA, dan diare diperkirakan mampu menghemat biaya pengobatan hingga triliunan rupiah.
Founder dan Chairman Health Collaborative Center (HCC), dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FSRPH, mengatakan temuan penelitian tersebut dapat menjadi landasan penting dalam penyusunan kebijakan kesehatan berbasis bukti.
“Intervensi nutrisi yang tepat tidak hanya mencegah dampak kesehatan akibat malnutrisi, tetapi juga berpotensi menurunkan beban pembiayaan kesehatan di masa depan. Karena itu, implementasinya harus berbasis bukti klinis dan ekonomi yang kuat agar tepat sasaran,” ujarnya.
Menurut Ray, pemenuhan gizi anak merupakan salah satu investasi paling strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa mendatang.
Di tengah percepatan program penurunan stunting nasional, berbagai inovasi nutrisi dalam negeri mulai berkontribusi mendukung upaya tersebut. Salah satunya melalui pengembangan produk PKMK yang dirancang untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi anak yang berisiko mengalami gagal tumbuh maupun gizi kurang.
Momentum Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni juga menjadi pengingat bahwa pemenuhan hak gizi anak merupakan bagian dari upaya mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dengan akses nutrisi yang semakin baik serta intervensi yang tepat sasaran, peluang menghadirkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan produktif menuju Indonesia Emas 2045 semakin terbuka. Masa depan bangsa pada akhirnya ditentukan oleh kemampuan memastikan setiap anak memperoleh hak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.(sb-02)
Nutrisi Tepat Jadi Kunci Kejar Tumbuh Anak, Studi Ungkap Potensi Turunkan Stunting Hingga 34,5 Persen












