by

Obyek Wisata Mangrove Lati Tuo Dipadati Pengunjung Setiap Akhir Pekan

TANA PASER,suarabalikpapan.com-Pengembangan objek wisata mangrove Lati Tuo, di Desa Kelempang Sari, Kecamatan Kuaro mendapat dukungan dari Pemprov Kaltim. Belakangan ini, khususnya akhir pekan, obyek wisata ini dipadati para pengunjung.

Menurut Camat Kuaro H. Muhammad Sidik, selama 2 tahun terakhir fasilitas obyek wisata ini mendapat alokasi anggaran dari dana desa. “Alhamdulillah destinasi wisata tersebut saat ini juga sudah banyak dikenal oleh masyarkat luas tak hanya di Paser saja,” kata Sidik,kepada media ini, pada Rabu (14/9/2022).

Sidik menuturkan, diakhir pekan obyek wisata yang bisa ditempuh kurang lebih 45 menit dari Tanah Grogot ini jumlah pengunjungnya terus meningkat hingga mencapai lebih dari 200 orang.  Meningkatnya jumlah pengunjung membuat perekonomian masyarakat Desa Kelempang Sari ikut meningkat. “Sudah lumayan banyak pengunjung 100 sampai 200 orang setiap akhir pekan,” ujarnya.

Sementara itu, Siti Nurjanah salah satu pengunjung yang dari Kelurahan Kuaro mengaku takjub dengan objek wisata mangrove tersebut. Ia mengaku sebelumnya jika ingin menikmati obyek wisata hutan mangrove harus ke Penajam Paser Utara (PPU) atau Balikpapan. Saat ini tidak usah jauh jauh lagi karena sangat dekat sekali dengan tempat tinggalnya. “Kalau dulu jauh kalau mau foto foto di hutan magrove sekarang dekat, karena tidak sampai 15 menit dari tempat saya tinggal,”akunya.

Ia menuturkan awalnya penasaran dengan objek wisata tersebut, apakah sama indahnya dengan wisata hutan magrove ditempat lain. “Hutan mangrove di sini gak kalah bagus dengan di tempat yang lain. Jadi untuk warga Kecamatan Kuaro nggak usah jauh jauh lagi,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Disporapar Paser Muksin mengatakan, pengembangan destinasi wisata hutan mangrove Lati Tuo di Desa Kelempang Sari tidak hanya Pemkab Paser, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat. Tetapi juga pihak swasta seperti PT Kideco Jaya Agung untuk pembangunan beberapa fasilitas pendukung. “Nanti pihak perusahaan sendiri yang akan membangun beberapa fasilitas pendukung guna memberikan kenyamanan kepada para pendukung,” ujarnya.

Muksin mengatakan, tidak hanya pengembangan objek wisata, tapi Disporapar Paser juga  memberikan pelatihan kepada Pokdarwis setempat untuk pengolahan buah magrove menjadi kuliner. “Memang mangrovenya dilindungi tapi kita dapat memanfaatkan buahnya menjadi jus. Jadi produknya bisa dipasarkan kepada pengunjung,” seraya menambahkan produk olahan buah mangrove  ini aman dikonsumsi seperti di daerah lain yang mengolah mangrove menjadi produk kiliner.(adv/vie)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita terkini