Kota Balikpapan

RSUD Kanujoso Tangani Ribuan Pasien Kasus Jantung Bawaan di Kaltim

25
×

RSUD Kanujoso Tangani Ribuan Pasien Kasus Jantung Bawaan di Kaltim

Share this article
Subspesialis Jantung Anak dan Penyakit Jantung Bawaan RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo, dr. Adelaide Adiwana, SpJP (K), FIHA.

BALIKPAPAN,suarabalikpapan.com – Jumlah pasien dengan penyakit jantung bawaan di Kota Balikpapan khususnya, dan Kalimantan Timur (Kaltim) pada umumnya, tergolong tinggi. Hal ini diungkapkan Subspesialis Jantung Anak dan Penyakit Jantung Bawaan RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo, dr. Adelaide Adiwana, SpJP (K), FIHA.
“Saya sangat terkejut ketika turun ke lapangan karena pasien jantung bawaan di sini sangat banyak, mulai dari kasus yang sederhana hingga kompleks,” ujarnya saat ditemui di Lantai 2 Gedung Anggrek Hitam, Sabtu (10/01/2026).
Menurut dokter yang akrab disapa dr. Adel ini, pasien yang datang ke RSUD Kanujoso tidak hanya berasal dari Balikpapan, tetapi juga dari Samarinda, Sangatta, Bontang, Kutai Timur, Kutai Barat, Tarakan (Kaltara), hingga Banjarmasin (Kalsel).
Hingga kini, sudah terdapat sekitar 200 tindakan medis yang harus ditangani segera. Dengan adanya layanan superspesialis jantung anak dan jantung bawaan, antrean pasien Kaltim yang sebelumnya menumpuk di Jakarta dapat berkurang signifikan. “Selama ini pusatnya di Jakarta. Tidak semua masyarakat mampu menanggung biaya hidup dan transportasi ke sana,” jelasnya.
Sebagian besar tindakan besar sudah bisa dilakukan di RSUD Kanujoso. Namun untuk kasus-kasus kritis, pasien masih harus dirujuk ke Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta. “Biayanya besar, sehingga dibutuhkan lembaga pembiayaan atau yayasan untuk membantu pasien yang harus segera dirujuk,” katanya.
Tingginya jumlah rujukan ke RSUD Kanujoso disebabkan oleh ketersediaan subspesialis jantung anak yang saat ini baru ada di rumah sakit tersebut yakni dokter Adel, serta fasilitas medis yang memadai. “Tahun ini saja, tindakan jantung mencapai 200 pasien. Total pasien jantung yang kami tangani mencapai ribuan selama tahun ini, karena tidak semuanya membutuhkan tindakan medis,” terangnya.
Menurut dr. Adel, jantung bawaan terbentuk pada trimester pertama kehamilan. Berbagai faktor dapat menjadi penyebab, antara lain: infeksi TORCH pada ibu hamil, konsumsi obat tertentu seperti obat kejang atau obat jerawat, hingga paparan bahan kimia dan radiasi.
Ia menambahkan, banyak pasien dengan kelainan jantung kompleks berasal dari daerah tambang seperti Sangatta dan Bontang. “Bukan hanya kasus sederhana, tetapi ada pembuluh darah terbalik, penyempitan pembuluh darah, hingga ruang jantung yang tidak terbentuk sempurna. Mayoritas dari daerah tambang, sehingga perlu ditelusuri apakah ada paparan bahan kimia atau radiasi,” ujarnya.
Dr. Adel menekankan pentingnya kesadaran ibu hamil terhadap kondisi kehamilan, terutama pada awal trimester. “Begitu tahu hamil, ibu harus lebih berhati-hati. Pada usia kehamilan 18–22 minggu bisa dilakukan USG fetal echo, bukan sekadar mengetahui jenis kelamin, tetapi memastikan kondisi jantung janin,” tuturnya.
Jika sejak awal terdeteksi adanya kelainan, proses persalinan harus dilakukan di fasilitas kesehatan yang lengkap agar bayi dengan kondisi kritis dapat segera ditangani. Untuk pasien tidak mampu, BPJS Kesehatan menanggung seluruh tindakan, baik kasus sederhana maupun kompleks. Namun, tindakan kompleks di Indonesia saat ini hanya dapat dilakukan di RS Harapan Kita.
Karena itu, diperlukan dukungan pendanaan dan jejaring yang kuat agar pasien kritis dapat segera dirujuk. “Misalnya bekerja sama dengan Yayasan Jantung Indonesia untuk membantu biaya transportasi dan kebutuhan hidup selama perawatan di Jakarta,” jelasnya.
Menyinggung Yayasan Jantung Indonesia Balikpapan yang kini kesulitan dana, dr. Adel berharap semakin banyak pihak swasta turut membantu. “Sebagian besar tindakan bisa kami lakukan di Balikpapan. Tapi karena keterbatasan SDM dan sarana, beberapa kasus tetap harus dirujuk. Semoga dengan dukungan berbagai pihak, semakin banyak pasien yang bisa tertolong,” harap Sekretaris Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Balikpapan tersebut.(sb-01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *