SAMARINDA,suarabalikpapan.com – Penyelamatan Sungai Mahakam dari ancaman banjir dan sedimentasi tidak cukup hanya mengandalkan pengerukan. Hal ini ditegaskan oleh anggota DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Sugiyono, yang mendorong reboisasi kawasan hulu sebagai langkah strategis dan berkelanjutan.
“Kalau kita bicara pengerukan Sungai Mahakam, harus realistis. Sungainya besar, panjang, dan persoalannya kompleks. Belum ada satu pun gubernur yang benar-benar menuntaskan masalah sedimentasi ini,” ujarnya di Samarinda.
Menurut Sugiyono, pengerukan hanya cocok diterapkan secara terbatas, terutama di area yang mengalami pendangkalan parah, seperti Teluk Kahabayi depan Masjid Islamic Center. Namun, ia menilai solusi menyeluruh justru terletak pada penguatan daerah tangkapan air melalui reboisasi dan pelestarian hutan di kawasan hulu.
Politisi tersebut mengungkapkan kekhawatiran atas meningkatnya debit air Sungai Mahakam saat musim hujan yang menyebabkan banjir di sejumlah kawasan rendah di Samarinda. Menurutnya, banjir tersebut merupakan dampak langsung dari kerusakan hutan di wilayah hulu.
“Kalau hutan gundul, air hujan tidak lagi terserap tanah, tapi langsung mengalir ke sungai. Ini mempercepat sedimentasi. Jadi, reboisasi itu logis dan jauh lebih murah dibanding pengerukan yang harus dilakukan terus-menerus,” jelasnya.
Sugiyono juga menekankan pentingnya kesadaran kolektif antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan. Menurutnya, pelibatan publik dalam kegiatan penghijauan, khususnya di wilayah rawan longsor dan banjir, merupakan langkah strategis yang harus diperluas.
“Jangan hanya heboh saat Mahakam meluap. Akar masalahnya ada di daratan. Kalau hutan rusak, sungai pasti terdampak. Ini logika sederhana yang sering diabaikan,” tambahnya.
Data dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kaltim mencatat lebih dari 40 persen dari sekitar 7 juta hektare hutan di provinsi ini telah mengalami kerusakan. Kerusakan tersebut sebagian besar disebabkan oleh aktivitas tambang dan alih fungsi lahan.
Kondisi ini semakin memperparah sedimentasi Sungai Mahakam yang terus meningkat setiap tahun, memperbesar risiko banjir di kota-kota hilir seperti Samarinda.
Sugiyono mendesak pemerintah provinsi untuk menjadikan pengendalian tata air dan pelindungan kawasan hulu sebagai prioritas utama dalam agenda lingkungan hidup dan penanggulangan bencana.
Hingga saat ini, belum ada langkah pengerukan besar-besaran secara menyeluruh yang dilakukan pemerintah. Ia menegaskan bahwa penanganan sedimentasi dan banjir tidak bisa bersifat reaktif, melainkan harus sistemik dan berbasis pada pemulihan ekosistem.(adv)
Reboisasi Jadi Solusi Utama Atasi Banjir dan Sedimentasi Sungai Mahakam












